PEMILU DARI SUDUT PANDANG PEGIAT MEDIA SOSIAL
Egi namanya, pegiat media sosial dari Kabar Wonogiri datang pagi-pagi memenuhi undangan KPU Wonogiri, antusiasmenya terlihat dari caranya memenuhi undangan. Berjarak 35 kilometer dari pusat kota, tidak menyurutkan semangat egi hadir di KPU Wonogiri. Egi datang bersama rekan satu circle-nya dari Eksplore Wonogiri, dan Wonogiri Hits. Pada saat menyambut kedatangan mereka, saya sejenak tertegun, ternyata ini yang selama ini menggerakan akun media sosial dengan jumlah folower ribuan hingga ratusan ribu. Ketertegunan saya menjadi-jadi, empat tahun kami mengelola akun media sosial resmi KPU Wonogiri baru ribuan yang menjadi follower.
Ya, Hari Jumat, tanggal 23 September 2022, KPU Kabupaten Wonogiri menyelenggarakan Coffee Morning bersama dengan penyiar radio dan pegiat media sosial di wilayah Wonogiri. Coffee morning kali ini mengusung tema melawan hoax, Pemilu sebagai sarana integrasi bangsa yang di moderatori oleh Analis Pemilu, Pascal Jati Kusuma. Acara di buka resmi oleh Ketua KPU Wonogiri Toto Sihsetyo Adi, dan hadir pada kesempetan tersebut anggota KPU Kabupaten Wonogiri Divisi Sosialisasi, Partisipasi Masyarakat, Pendidikan Pemilih dan SDM KPU Kabupaten Wonogiri Augustina Puspa Dewi, Divisi Hukum Pradika Harsanto dan Divisi Teknis Penyelenggaraan Pemilu Wahyu Nurjanah.
Sementara pegiat media sosial hadir dari kabar wonogiri, eksplore wonogiri, repost wonogiri, dan wonogiri hits sedangkan penyiar radio hadir dari radio Krisna, Radio Giri Swara dan Radio Gajah Mungkur. Di era netizen yang maha dahsyat ini, KPU sudah saatnya menyusun sebuah peta penyampaian informasi yang out of the box, tidak hanya satu arah namun lebih pada komunikasi antar penyampai informasi dan audiens. Penyampaian informasi yang komprehensif, jauh dari citra kekakuan dan keformalan yang selama ini melekat pada sebuah institusi pemerintahan. Dari awal sampai dengan akhir kegiatan, saya dapat menyimpulkan bahwa guna melengkapi pola penyampaian informasi harus segera mengambil langkah-langkah:
1. Menyampaikan informasi dengan riang gembira;
2. Mengembangkan story telling sebagai sebuah sarana menciptakan imajinasi masyarakat terhadap proses Pemilu;
3. Menyusun content dan melakukan pengulangan hal-hal yang prinsipil;
4. Media sosial lebih membuka diri.
Ini menjadi latihan story telling pertama, sebelum menulis story telling yang sungguhan. Lumayan lah jadi follower mas Agus Magelangan yang pernah akan colabs dengan kami, tapi Tuhan mengatur lain. hehehehe…...
Nursahid Agung Wijaya
Kepala Subbagian Teknis Penyelenggara Pemilu dan Parhumas